Kamis, 31 Juli 2008

Tidak Ada SUN Dari Pemerintah

Dengan kondisi APBN-P 2008 yang masih cukup aman, pemerintah tidak akan mencari suntikan dana baru dari obligasi negara. Oleh karena itu maka untuk tahun ini pemerintah tidak menerbitkan Surat Utang Negara atau SUN.
Dijadwalkan pada 19-26 Agustus Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) atau sukuk akan diterbitkan melalui sistem book building. Penjatahan dan penetapan harga sukuk dilaksanakan tanggal 27 Agustus dan akan resmi diterbitkan serta dilakukan pembayaran dan listing tanggal 28 Agustus. Penerbitan sukuk ini akan menggunakan aset negara senilai Rp18,3 triliun berupa tanah dan bangunan.
Rencana penerbitan sukuk ini terkait dengan sikap pemerintah yang lebih memprioritaskan penerbitan obligasi syariah berdenominasi rupiah ketimbang mata uang asing. Berkurang atau bertambahnya jumlah penerbitan selanjutnya akan mempertimbangkan permintaan sukuk di dalam negeri.

Harga Bahan Bakar Khusus Turun

Dijadwalkan mulai tanggal 1 Agustus 2008, harga Bahan Bakar Khusus turun. Berikut ini adalah daftar dari harga baru BBK hingga hari Kamis tanggal 31 Juli 2008:
Pertamax Plus:
  1. Batam Rp 9.500 dari Rp 10.000
  2. SPBU Bersaing Rp 10.050 dari Rp 10.700
  3. UPms I Rp 10.250 dari Rp 11.000
  4. UPms III Rp 10.100 dari Rp 10.750
  5. UPms IV dan V Rp 10.300 dari Rp 11.000
  6. UPms VI Rp 10.300 dari Rp 11.000

Pertamina Dex:

  1. UPms III dan V Rp 12.900 dari Rp 13.500

Biopertamax:

  1. UPms III Rp 9.850 dari Rp 10.600
  2. UPms V Rp 10.000 dari Rp 10.750
  3. Bali Rp 10.150 dari Rp 10.800.

Pertamax:

  1. UPms I Rp 9.950 dari Rp 10.900
  2. UPms II Rp 10.200 dari Rp 10.900
  3. UPms III Rp 9.850dari Rp 10.600
  4. UPms IV dan V Rp 10.000 dari Rp 10.750
  5. UPms VI Rp 10.000 dari Rp 10.700
  6. UPms VII Rp 10.250 dari Rp 11.000
  7. Palu Rp 11.250 dari Rp 12.000
  8. Bali Rp 10.150 dari Rp 10.800
  9. SPBU Bersaing Rp 9.800 dari Rp 10.550
  10. Bangka Rp 11.300 dari Rp 12.000

Selasa, 29 Juli 2008

Rp2,4 triliun Untuk Telkom

Hari ini, selasa, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mendapat kucuran kredit dari enam bank lokal sebesar Rp2,4 triliun. Bank-bank yang terlibat dalam sindikasi tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dengan porsi kredit Rp500 miliar dan konsorsium Bank Jabar yang terdiri sub-partisipan terdiri Bank Jateng, Bank Jatim dan Bank Papua sebesar Rp700 milliar. PT Bank Negara Indonesia Tbk menjadi lead arranger dalam sindikasi tersebut.

Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk keperluan general purpose dengan jangka waktu lima tahun, termasuk grace periode satu tahun. Selain itu pada kesempatan yang sama juga ditandatangani nota kesepahaman kerjasama antara Telkom dan BNI tentang pemanfaatan potensi usaha secara bersama, yang meliputi kerjasama infrastruktur jasa informasi dan telekomunikasi serta jasa telekomunikasi. Selain itu ditambahkan kerjasama customer base untuk pengembangan bisnis, program jasa penjualan dan pemasaran, kemitraan pendidikan, jasa pengembangan produk dan layanan bersama.

Kredit Bank Mandiri Naik 27,46 Persen

Lain BNI lain Mandiri. Untuk semester I 2008 kredit PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI meningkat 27,46 persen menjadi Rp125,44 triliun dibandingkan kredit periode yang sama tahun lalu. Dalam laporan keuangannya disebutkan setelah dipotong PPA kredit yang diberikan sebesar Rp5,44 triliun, kredit dalam mata uang rupiah pada semester I 2008 sebesar Rp93,81 triliun dan kredit valas sebesar Rp31,63 triliun setelah dipotong PPA sebesar Rp3,60 triliun. Total kredit pada semester I tahun lalu mencapai Rp98,41 triliun.

Persentase penyaluran kredit UMKM terhadap total kredit sebesar 15,29 persen atau lebih besar dari semester I tahun lalu sebesar 13,30 persen, dengan persentase jumlah debitur UMKM terhadap total debitur 47,52 persen, dari tahun lalu sebesar 38,42 persen. Penyaluran kredit usaha kecil atau KUK berdasarkan neraca aktiva produktif pada semester I 2008 sebesar Rp3,89 triliun atau 2,9 persen dari total kredit atau berkurang dari semester I 2007 sebesar 4,01 persen. Lalu persentase jumlah debitur KUK terhadap total debitur mencapai 19,31 persen.

PT Bank Mandiri Tbk juga mencatat kenaikan kredit properti menjadi Rp11,44 triliun dari Rp10,31 triliun, namun kredit properti yang direstrukturisasi berkurang menjadi Rp881,37 miliar dari Rp1,43 triliun.

Laba bersih konsolidasi meningkat 56,5 persen menjadi Rp10,47 triliun dari Rp6,69 triliun sehingga laba bersih per saham setelah terdelusi menjadi RpRp123,66. Laba bersih per saham tahun lalu setelah terdelusi menjadi Rp103,08. Mereka juga mencatat kenaikan total aktiva 13,24 persen menjadi Rp285,77 triliun dari Rp252,34 triliun.

Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau LDR pada semester I 2008 naik menjadi 59,53 persen dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 53,64 persen. Rasio kecukupan modal atau CAR perseroan dengan memperhitungkan risiko pasar dan risiko kredit turun menjadi 17,58 persen dari tahun lalu yang sebesar 24,40 persen. Sebaliknya, rasio kredit bermasalah atau NPL netto berhasil turun dari 3,89 persen menjadi 0,84 persen.

Peningkatan Laba Bersih Jaya Property

JRPT atau PT Jaya Real Property Tbk mencatatkan peningkatan laba bersih mereka. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya pendapatan usaha sebesar 32 persen menjadi Rp284,44 miliar dari Rp215,24 pada semester I 2007. Namun sayangnya beban usaha juga naik menjadi Rp47,90 miliar dari Rp36,47 miliar. Oleh karena itu untuk semester I 2008 tercatat laba bersih mereka tumbuh sekitar 28,6 persen menjadi Rp59,43 miliar, dan sudah barang tentu membuat laba per sahamnya juga meningkat menjadi Rp21,61 dari sebelumnya hanya Rp16,81 YoY.

Selain peningkatan laba bersih JRPT juga mencatat kenaikan total aktiva sebesar 16,5 persen menjadi Rp2,12 triliun dari sebelumnya Rp1,82 triliun dikarenakan oleh munculnya piutang hubungan istimewa sebesar Rp8,56 miliar, serta karena adanya uang muka investasi sebesar Rp1,2 miliar dan bertambahnya investasi saham dari Rp5,44 miliar menjadi Rp6,47 miliar.

BNI Anjlok 56 Persen

PT Bank Negara Indonesia Tbk mendapati laba bersih mereka untuk semester I 2008 turun menjadi Rp439 miliar dari Rp1 triliun YoY atau mencatat penurunan sebesar 56 persen. Penurunan ini dikarenakan kredit bermasalah tahun ini yang mencapai Rp2,15 triliun, atau meningkat dari jumlah tahun lalu yang hanya sekitar Rp998 miliar. Namun walaupun laba bersih mereka turun, mereka masih mencatatkan kenaikan dalam Net interest income triwulan yang tahun lalu "hanya" Rp3,33 triliun menjadi sebesar Rp4,63 triliun.

Yah, namanya juga usaha, ada untung/rugi kali.

Telkom Tekan Utang Valas

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mengeluarkan kebijakan baru menyangkut utang valas mereka. Selama ini sekitar 90 persen pendapatan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk diperoleh dalam bentuk rupiah, hal ini menyebabkan mereka sedikit kebingungan untuk membayar utang2 mereka yang bukan dalam mata uang rupiah. Oleh karena itu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berusaha menekan jumlah utang valas mereka sebagai bentuk usaha untuk menjaga kondisi keuangan perseroan dari gejolak nilai tukar yang sangat fluktuatif.

Dalam perhitungannya, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berusah menekan utang valas mereka hingga ke angka 40 persen atau berusaha menurunkan 30 persen dari total utang vals mereka selama ini yang berada di kisaran 70 persen.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk telah menyepakati perjanjian dengan tiga bank senilai Rp2,5 triliun menyangkut kebijakan ini, sementara PT Perusahaan Listrik Negara mendapat pinjaman sekitar Rp2,8 triliun. Semua kredit itu adalah sebuah bagian dari total belanja modal perseroan tahun ini yang senilai Rp23,12 triliun yang akan ditanggung renteng. Bunga dari sindikasi perbankan itu sebesar JIBOR rata-rata tiga bulan plus 1,2 persen.

Pada triwulan I/2008 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp15 triliun. Nilai itu 8,5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan triwulan I/2007 yang "hanya" sebesar Rp13,8 triliun, sedangkan laba bersih mereka pada triwulan I/2008 mencapai Rp3,2 triliun atau meningkat 5,4 persen dibandingkan laba bersih pada triwulan I/2007 yang berjumlah Rp3 triliun.